CARA MEMPELAJARI RAHASIA ILMU JAWA

Disebut juga “AJI PAMELENG”; yang bermakna “Aji” = Ratu; “Pameleng” = Konsentrasi = Tapa – Bertapa - Samadhi, mengandung maksud, sebuah niat yang paling utama untuk bertapa atau Samadhi.

Bertapa – Samadhi, disebut juga : Manekung, Tafakur, Pubarata, Mengendalikan Budi, mengendalikan cipta, menenangkan raga, yoga, dan sebagainya.

Tempat untuk menjalankan hal tersebut, dinamakan Pertapan, Pamurcitan, Pamursitan, dan lain sebagainya.

Sedangkan teorinya disebut “Daiwan”, dawan, tirta amerta, tirta kamandhanu, tirta nirmala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan, kawicaksanan, sastra cetha, ataupun Sastrajendrayuningrat Pengruwating Diyu, dan lain sebagainya.

Sedangkan manfaat ilmu Samadhi dan tindakan yang demikian, digunakan sebagai sarana menyempurnakan dalam menjalankan Ibadah, agar mendapatkan keselamatan hidup,

Sebab bisa sebagai sarana untuk bisa melakukan tindak laku utama dengan sempurna, dan juga bisa digunakan sebagai sarana ketika diri ada hajat keperluan yang sangat penting untuk memohon anugrah hidup kepada Tuhan Yang Maha Murah.

Sedangkan mengapa di dunia ada ilmu tata cara bertapa (Yoga) Samadhi yang demikian, menurut dari kata-kata tersebut, ternyata banyak yang berasal dari Bahasa Sansekerta.

Dengan demikian terbukti bahwa Ilmu Samadhi, berasal dari ilmu para pertapa (Yogi) dari Hindu India pada jaman dahulu.

Barangkali saja bersamaan dengan ketika Bangsa Hindu membuat Candi-candi dan patung-patung pada saat itu.

Awal mula ilmu tersebut, hanya untuk bangsa Hindu, tidak terkecuali Bangsa Hindu yang beragama apa saja akan bisa melakukan Samadhi.

Sebab hanyalah Ilmu Samadhi (Tafakur) ini saja yang menjadi pembuka ilmu di seluruh dunia, dan juga menjadi ujung tombak dalam Ilmu Agama.

Lama-kelamaan Bangsa Hindu merantau ke Tanah Jawa dan ke berbagai negara lain, serta juga mengajarkan Agama dan ilmu yang dianutnya.

Demikian Juga Ilmu Samadhi juga tidak ketinggalan. Imu Samadhi di Tanah Jawa bisa berkembang dengan subur, sebab masyarakat Jawa tidak pilih-pilih ilmu, dan juga orang Jawa senang berguru dan bisa menjalankan dengan sempurna ilmu apa saja yang masuk ke Tanah Jawa.

Sebab ilmu yang demikian bisa selaras dengan dasar jiwa orang Jawa, sehingga orang jawa dengan mudahnya bisa menerima ilmu tersebut. 

Ditambah juga dengan banyak nya orang Hindu yang pergi ke tanah Jawa, dengan tujuan berdagang, menyebarkan Agama dan juga ilmu bijaknya. Sekejab saja hampir semua orang Jawa di masa itu, memeluk Agama Hindu.

Kemudian disusul dengan datangnya Bangsa Arab ke tanah Jawa, yang juga dengan membawa Ilmu dan Agama Nabi Muhammad, saw.

Yaitu Agama Islam, sehingga sedikit mengurangi perkembangan Agama Hindu, sebab, banyak juga orang Jawa yang memeluk Agama Islam. Hanya saja, Agama Islam tidak punya Ilmu Samadhi, sebagaimana tersebut di atas.

Ketika Islam telah berkuasa dengan berhasil mendirikan Kerajaan Demak (Bintara), kemudian Negara melarang orang Jawa untuk menyebar luaskan Ilmu Samadhi, demikian juga dipaksa berganti agama untuk memeluk Agama Islam.

Namun, tidak semua orang Jawa mau masuk untuk memeluk Agama Islam. Walaupun telah memeluk Agama Islam, namun tidak sepenuhnya menjalan Syariatnya, hanya sebatas karena takut pada hukuman raja saja.

Sehingga Agama Islam yang dianut hanya sebatas luar atau di lahir saja. Dalam jiwa dan batin mereka, masih tetap beragama Hindu.

Sehingga Ilmu Samadhi masih tetap dijalankan, hanya saja dengan cara sembunyi-sembunyi, dan dilakukan pada malam hari di atas jam 12 malam.

Sedangkan tempat untuk bertapa di tempat yang tidak terhalang apapun, yaitu di tempat terbuka yang luas, seperti di dalam hutan, di sungai dan sebagainya, asal saja tempat yang benar-benar sepi.

Diajarkan dengan cara bisikan, tidak boleh terdengar oleh siapapun, walaupun oleh dedaunan, rumput, hewan dan juga hewan kecil yang merayap di tanah juga tidak boleh mendengar.

Jika ikut mendengar maka mereka yang mendengar akan berubah menjadi manusia. Sehingga diajarkan dengan cara, Guru duduk berhadapan dengan cara beradu dahi dengan murid, dan guru berpesan bahwa apa yang diajarkan tidak boleh diberitahukan kepada siapapun juga, tanpa ijin dari sang guru.

Jika di langgar, maka sang murid akan mendapat celaka karena akan mendapat hukuman dari Tuhan.

Cara yang demikian bertujuan agar ajaran Ilmu Samadhi (Yoga) tidak bisa di ketahui oleh Pemerintah yang berpedoman pada ajaran Agama Islam, sebab apabila sampai ketahuan, akan mendapat hukuman yang sangat berat.

 Sampai dengan jaman sekarang, walaupun negara sudah tidak melarang dengan adanya Ilmu Samadhi (yoga), namun cara menyebar luaskan ajaran tersebut, masih tetp sama dengan cara sembunyi-sembunyi seperti di jelaskan di atas.

Sehingga mendapat julukan oleh orang yang tidak suka ajaran tersebut, atau oleh orang yang beragama Islam, bahwa ajaran Ilmu Samadhi (yoga) tersebut disebut Ilmu Klenik. Berasal dari kata “Klenik” sehingga di tanah Jawa ada sebutan “Abangan” dan “Putihan” (merah dan putih).

Yang diberi julukan “Abangan” adalah orang jawa Islam yang tidak menjalankan Syariat Agama Islam, sedangkan “Putihan” adalah sebutan bagi orang jawa yang menjalankan sepenuhnya Syariat Agama Islam, disebut Santri.

Sehingga Santri disebut juga “Putihan” sebab pada umumnya pakaian yang digunakan oleh Santri yang ber Agama Islam, itu lebih bersih di banding dengan orang Jawa yang tidak ber Agama Islam.

Kembali kepada Ilmu Samadhi (yoga), bahwa disebut Ilmu Rahasia di karenakan seperti keterangan tersebut di atas.

Sedangkan yang sesungguhnya nama Ajaran Rahasia itu, sebetulnya tidak ada. Sehinga boleh-boleh saja di ajarkan kepada siapa saja, baik kepada yang muda atau juga kepada yang sudah berumur tua, dan juga boleh diajarkan sewaktu-waktu kapan saja, apabila ada seseorang yang benar-benar sangat membutuhkan Ilmu Samadhi (Yoga) tersebut.

Sebab, tata cara yang demikian itu, agar ajaran tersebut bisa diketahui oleh orang banyak, lebih-lebih bahwa Ilmu Samadhi (Yoga) tersebut ternyata menjadi pemuka dari semua Ilmu,

sehingga wajib disebar luaskan agar menjadi pengetahuan bagi generasi muda ataupun juga yang sudah tua, tanpa melihat tinggi rendah dari martabat dan derajat seseorang.

 Tibalah pada suatu masa, ada cerita kejadian yang tidak di sangka-sangka, di belakang hari Ilmu Samadhi (Yoga) tersebut bisa di terima oleh orang Islam,

sebab mereka percaya bahwa Ilmu Samadhi (Yoga) tersbut, memang benar sebagai puncak ilmu yang bisa menghantarkan kepada keselamatan, kehormatan, ketenteraman dan sebagainya.

Sehingga Ilmu Samadhi (yoga) tersebut oleh se orang yang telah terbuka pintu hatinya dengan kebenaran, yang bernama “Shech Sitijenar” atau Syech Lemah Abang, yang nama aslinya “San Ali Ansar” ada juga yang menyebut “Kasan Ali Ansar”,

Yang kedudukan tingkat ilmunya juga sebagai Pemuka Agama setingkat Wali, kemudian digubah oleh nya di kitab buatannya yang disebut “Daim”, mengambil dari asal kata “Daiwan” ,

Yang kemudian digunakan sebagai tata cara dalam melakukan ibadah, dengan cara dirobah susunan katanya, menjadi : “Sholat Daim” (Sholat yang tiada terputus).

Sehingga oleh ajaran Syech Sitijenar Sholat terbagi menjadi dua, yaitu Sholat 5 waktu, disebut Sholat Syariat, Sholat lahir. Yang ke dua Sholat Daim.

Sholat  ini adalah Sholat di dalam batin, mengandung maksud juga menyatukan rasa diri pribadi dengan Tuhan atau dalam Bahasa Jawa disebut “Manunggaling Kawula Gusti”, atau “Loroning Atunggal” (Dua menjadi satu).

Kitab buatan Syech Sitijenar kemudian digunakan sebagai pedoman dalam ajaran tersebut.

Setelah berhasil mendapat perhatian oleh orang banyak, di situ Sholat 5 waktu dan Syariat Agama Islam oleh pengikut Syech Sitijenar, ajaran nya banyak yang ditinggalkan ataupun tidak di ajarkan lagi.

Perhatian para penyebar Ilmu murid Syech Sitijenar hanya mengajarkan Sholat Daim saja. Sehingga orang jawa yang semula sudah memeluk Agama Islam terlebih lagi yang belum, semua condong dan berguru kepada Syech Sitijenar, sebab ajarannya lebih mudah, terang dan nyata.

Sedangkan Ilmu Samadhi yang dikembangkan oleh Syech Sitijenar berasal dari Kyai Ageng Pengging, sebab Syech Sitijenar adalah masih saudara dari Kyai Ageng Penging.

Ilmu Samadhi (Yoga) oleh Syech Sitijenar diajarkan kepada “Raden Watiswara” juga bernama “Pangeran Panggung”, yang juga dia mempunyai derajat Wali.

Kemudian diajarkan kepada “Sunan Geseng”, yang juga bernama “Ki Cakrajaya” yang berasal dari daerah “Pagelen”. 

yang dalam cerita ketika dia belum menjadi Wali, mempunyai pekerjaan “nderes” mengambil air sari bunga pohon kelapa untuk dibuat menjadi Gula Kelapa. Kemudian olehnya diajarkan kepada orang banyak .

Demikian juga para sahabat Syech Sitijenar yang telah terbuka hatinya oleh ajaran Syech Sitijenar disuruh mendirikan perguruan untuk menyebarkan Ilmu Samadhi tersebut.

Semakin lama semakin banyak dan berkembang, sehingga berhasil menyaingi bahkan melemahkan kekuasan Wali yang lain  dalam hal menyebarkan Ilmu Agama Islam, sehingga banyak masjid yang kosong.

Untuk menanggulangi keadaan yang demikian agar tidak semakin berkembang luas, maka Kyai Ageng Pengging dan juga Syech Sitijenar beserta pengikutnya semuanya di hukum pancung oleh para Wali yang mendapat perintah dari Sultan Demak.

Demikian juga Pangeran Panggung tidak ketinggalan pula, di hukum dengan cara dibakar di tengah alun-alun Demak, untuk dijadikan contoh agar supaya orang-orang dan para pengikutnya menjadi takut, dengan harapan supaya bersedia meninggal ajaran Syech Sitijenar.

Dalam cerita tersebut, tubuh Pangeran Panggung tidak bisa terbakar api, kemudian dia keluar dari dalam api dan meninggalkan kerajaan Demak.

Ada salah satu kisah cerita bahwa, pada saat Pangeran Panggung sedang berada di dalam api, Pangerang panggung mengarang Kitab yang diberi nama “Suluk Malang Sumirang”. 20 Bait Tembang Macapat yang termuat di dilam buku "Suluk Walisana" Karangan Sunan Giri ke II (Jenis lagu Jawa).

Sebelum meninggalkan Demak, buku itu diserahkan kepada Raja Demak. Dan pada saat Pangeran Panggung pergi meninggalkan api, Sultan Bintara dan para punggawa kerajaan, beserta para Wali, kalah wibawa oleh kesaktian Pangeran Panggung, sehingga termangu dan tidak bisa berbuat apa-apa bagaikan tersihir. 

Setelah Pangeran Panggung pergi jauh, barulah Sultan Demak dan para Wali sadar bahwa Pangeran Panggung selamat dari hukuman bakar.

Sehingga mereka merasa kalah oleh kesaktian Pangeran Panggung, yang mendapat Anugrah kasih sayang dari Tuhan.

Kemudian datang Punggawa kerajaan melapor bahwa Sunan Geseng atau Cakrajaya pergi juga menyusul langkah Pangeran Panggung.

Kemudian setelah sadar, barulah muncul kemarahan Sultan Demak, sehingga kemudian menyuruh prajuritnya untuk membunuh sahabat dan semua murid Syech Sitijenar yang telah berhasil ditangkap, sedangkan yang tidak tertangkap melarikan diri mencari selamat.

Para sahabat dan murid Syech Sitijenar yang masih hidup di dalam pelariannya, kemudian mendirikan Perguruan dan terus melestarikan ajaran “Ilmu Samadhi”, namun dengan cara ditutupi dengan ajaran Syariat Islam seperti pada umumnya,

Agar tidak di ganggu ataupun dilarang oleh para Wali pembela Kerajaan Demak. Sedangkan isi ajarannya, sebagai berikut :

Cara pengajaran Ilmu Samadhi yang kemudian disebut Sholat Daim dibarengi dengan pengajaran Sholat 5 waktu, juga rukun Islam lainnya.

Ajaran Sholat Daim kemudian diberi nama Naksobandiyah, sedangkan isi ajaran diberi nama “Tafakur”.

Cara yang lain, tata cara dalam cara mengajarkan ilmu tersebut,  sebelum para murid diberi ajaran Sholat Daim, terlebih dahulu para murid dilatih menjalankan beberapa macam jenis dzikir dan juga membaca ayat-ayat suci.

Sejak saat itu Ajaran Ilmu Samadhi, ada dua macam yaitu :

1.   Ilmu Samadhi yang sesuai dengan ajaran yang diajarkan oleh para murid Syech Sitijenar yang ditutupi atau oleh ajaran Rukun Islam. 

Ajaran tersebut pada jaman selanjutnya mengalami perubahan karena tidak sesuai lagi dengan ajaran pada awal ilmu itu ada.

Sehingga para guru pada jaman sekarang dalam menyampaikan pengajaran Ilmu Samadhi, yang telah berganti nama menjadi Naksobandiyah dan juga Satariyah, mengira bahwa ilmu tersebut perasal dari Jabalkuber atau Mekah, walaupun Ajaran Naksobandiyah dan Satariyah yang asli itu ada, dan cara pengajarannya tidak sama seperti tersebut di atas.

Sehingga para Kyai guru Agama Islam, memberi julukan Guru Klenik kepada para guru yang mengajarkan Ilmu Samadhi yang berpedoman pada ajaran Jawa yang bersumber dari ajaran Syech Sitijenar, dan Para Kyai Guru tersebut memberi julukan nama “Kiniyai” mengandung maksud Guru yang mengajarkan ilmu setan.

Sedangkan sebutan Kyai adalah hanya untuk guru yang mengajarkan Ilmu Nabi.

2.   Ajaran Ilmu Samadhi cara Jawa, yang bersumber dari Kyai Ageng Pengging yang dikembangkan oleh Syech Sitijenar (jaman sekarang diberi julukan klenik),

tersebut yang pada awalnya berdasar pada 5 pedoman, sebagaimana berikut :

2.1.         Setya tuhu;  sangat bersungguh-sungguh dan jujur.
2.2.         Santosa; berbuat adil, tanggung jawab tidak berbuat semaunya sendiri.
2.3.         Benar dalam semua pekerjaan; Sabar; kasih sayang pada sesama, tidak mengunggulkan dirinya sendiri, tidak berwatak kejam.
2.4.         Pinter saliring kawruh, Pandai dalam banyak ilmu, terlebih lagi pandai menjaga perasaan sesama, serta bisa mengendalikan nafsu amarah dalam diri, tidak serakah terhadap harta benda.
2.5.         Susila anor – raga, Selalu bersikap sopan santun, serta bersikap yang bisa menyenangkan orang lain dan juga indah dalam berkata-kata apalagi terhadap orang yang sedang menderita kesusahan.

 Tindakan 5 macam tersebut harus dilakukan bersama saat ketika menjalankan Samadhi, yaitu mengendalikan Cipta mengheningkan cipta.

Oleh karena itu menurut ajaran Jawa, tentang Ilmu Samadhi dan juga 5 macam tindakan tersebut di atas, akan diajarkan kepada semua anak muda atau orang tua tidak memandang tinggi rendahnya kelas dalam masyarakat.

Sebab inti ilmu dan tinggi tingkatan ilmu seseorang apabila tetap dalam menjalankan  Samadhi, dan mampu menjalan 5 ajaran tersebut di atas, maka manusia akan mendapatkan ketentraman, sedangkan dengan adanya ketentraman menyebabkan hidup merdeka dalam rasa.

Jika tidak demikian, sampai dengan akhir jaman, seseorang akan mengalami nasib sengsara, tergilas oleh roda jaman, sebab rusak hati nurani diri.

Tentang Ilmu Samadhi yang diberi nama Ajaran Naksobandiyah dan Satariyah, yang berasal dari Syech Sitijenar, telah dijelaskan di muka, namun tata caranya tidak dijelaskan.

Di sini hanya akan menjelaskan tata cara melakukan Samadhi cara Jawa, sebelum tercampur dengan Agama lain, sebagai berikut :

Semoga para pembaca tidak salah terima, bahwa Samadhi itu, akan menghilangkan rasa hidup manusia atau pun akan mengeluarkan ruh dari badan.

Pemahaman yang demikian, berasal dari pemahaman yang terkandung dalam cerita “Sri Kresna” raja Dwarawati, atau “Arjuna” yang sedang menjalankan “Raga Sukma”. Agar diketahui di sini, bahwa cerita demikian hanya sebatas ibarat saja.

Tata cara Samadhi Jawa adalah sebagai berikut :

Kata Samadhi = Satu rasa = memusatkan rasa = rasa jati = rasa ketika rasa belum bekerja. Sedangkan berjalannya rasa disebabkan oleh hasil pengalaman-pengalaman yang diterima atau kejadian-kejadian yang di terima dalam hidup sehari-hari. Itulah kerja rasa yang disebut berfikir.

Berasal dari kekuatan ilmu, pengalaman, dan peristiwa hidup sehari-hari, sehinga Pikiran manusia bisa menganggap baik dan buruk, yang bisa menjadi penyebab Tata cara, tindakan, sikap, dan sebagainya, yang kemudian akan menjadi kebiasaan.

Sedangkan anggapan tentang baik dan buruk, yang telah menjadi kebiasaan tersebut, apa bila buruk memang benar-benar buruk, dan apabila biak, memang benar-benar baik, itu sebetulnya belum tentu benar.

Hal ini karena hanya disebabkan oleh kebiasaan cara berfikir saja, atau anggapan diri sendiri saja. Anggapan yang demikian, tidak mesti benar, tetap hanya sebatas kebiasaan tata cara berfikir saja, sehingga hal itu bukan yang sebenarnya.

Sedangkan maksud dan tujuan Samadhi, adalah bertujuan untuk mengetahui dan memahami kenyataan yang sebenar-benarnya (Kajaten).

Sedang tata cara nya adalah dengan memahami dan menghilangkan segala anggapan dari kekuatan daya pikir sendiri, disebut hilangnya tempat dan tulisan (Sirnaning papan lan tulis).

Setelah berhasil menguasai daya pikir yang demikian, maka itu ujud rasa yang sesungguhnya rasa (rasa jati) yang bisa mengetahui segala sesuatu tanpa petunjuk (Dalam bahasa Jawa disebut "Tanpa Tinulis bisa dibaca").

Sedangkan hal demikian akan bisa dicapai dengan cara menghentikan segala pengaruh gerak pikiran, dengan cara mengendalikan segala gerak anggota badan.

Mengendalikan pengaruh dari gerakan badan yang paling  maksimal adalah dengan cara tidur terlentang, tangan bersedakep melipat kedua tangan atau kedua tangan diluruskan,

kedua telapak tangan ditempelkan di kedua paha kanan dan kiri, kaki diluruskan, telapak kaki yang kanan di atas telapak kaki kiri, sikap yang demikian disebut “Sidakep saluku tunggal”, (Bersidakep berkaki satu). Dan juga memusatkan pandangan atau menghentikan gerak mata.

Tindakan demikian disebut “Meleng” (Memusatkan mata). Sikap demikian akan bisa mengendalikan gerak pikiran, serta mengendalikan gerak rasa, sedangkan pusat titik mata di arahkan dan di pusatkan memandang ujung hidung dengan menyatukan dua titik pandangan mata menjadi satu, dengan cara memejamkan kedua mata.

Langkah selanjutnya adalah menata keluar masuknya nafas, dengan cara mengendalikan jalannya nafa.

Dimulai nafas berjalan dari puser perut, di tarik ke atas melewati pangkal mulut  Cethak) terus di naikan ke atas hingga masuk ke dalam otak, kemudian di tahan semampunya di dalam otak.

Dalam melakukan tarikan nafas yang demikian, dilakukan sampai dengan badan merasa tidak punya daya kekuatan untuk mengangkat apapun, sedangkan yang di kendalikan adalah jalannya rasa.

Apabila telah terasa berat dalam menahan nafas, kemudian nafas dilepaskan dengan perlahan-lahan. Sikap yang demikian yang disebut Sastracetha. Arti dari “Cetha” = penempatan ilmu, “Cetha” = Suara Cethak (pangkal mulut) yang berat.

Disebut demikian, sebab ketika sedang melakukan tarikan nafas dari pusat perut melewati dada terus naik melewati cethak (pangkal mulut) sampai masuk ke pusat otak.

Apabila jalan nya pernafasan tidak di kendalikan, maka nafas hanya akan mengikuti jalan nafas sendiri saja, cara nafas yang demikian tidak akan sampai naik masuk ke dalam otak, sebab nafas baru sampai di pangkal mulut (cethak) akan turun kembali dan keluar lagi.

Langkah demikian disebut juga “Daiwan” (dawan), maksudnya : Mengendalikan perjalan nafas yang panjang dan dengan tenang, dengan mengucapkan mantra di dalam batin, yaitu yang berbunyi “Hu” bersama dengan masuknya nafas, yang berjalan dari puser, cethak sampai ke pusat otak.

Kemudian mengucapkan “ya” bersama sama saat melepaskan nafas yang berjalan dari pusat otak – cetahk – sampai ke perut. Naik dan turun nya perjalanan nafas akan selalu melewati dada dan cethak.

Hal demikian disebut “Sastracetha” sebab, ketika mengucapkan mantra sastra dua macam : Hu – ya, yang hanya di batin saja, akan terasa di dalam cethak (pangkal mulut). (Mantra dua macam tersebut,

Hu dan Ya, di dalam ajaran Naksobandiyah dirubah menjadi berbunyi : Hu – Allah, menyebutnya juga bersamaan dengan perjalanan nafas. Sedangkan dalam ajaran Satariyah sebutan tersebut , menjadi : Ha ilah Ha illalloh, namun tidak digabung dengan pernafasan).

(Sedikit tambahan penyunting : Pada saat melakukan pernafasan demikian, usahakan mengendurkan urat wajah se rilex-rilex nya atau sesantai mungkin, dibarengi seolah-olah tersenyum, dan mengendurkan urat otak se santai santainya, dan yang terpenting...

Jangan dibarengi menelan ludah – penyunting hanya sebatas belajar yoga dan sangat bermanfaat ketika sedang menghadapi problim kehidupan).

Kebiasaan yang biasa terjadi, dalam melakukan pernafasan dengan cara demikian, dalam satu angkatan bernafas hanya mampu mengulang sebanyak 3 kali pernafasan, biasanya sudah terengah-engah.

Apabila sudah tenang, maka di ulang lagi. Tindakan demikian dilakukan berulang-ulang, hingga jika semakin lama dan makin banyak dilakukan, akan semakin baik.

Sedangkan dalam satu kali angkatan tindakan yang demikian disebut : “Tri pandurat” yang artinya “Tri” = tiga; “Pandu” = suci; “Rat” = Dunia = tubuh = tempat, yang bermakna juga : Tiga kali tarikan nafas, maka itu berarti telah bisa sampai di hadapan Yang Maha Suci yang bertempat di dalam otak (Susuhunan = yang di suwun) tempat permohonan.

Yaitu yang disebut “Kawula Gusti”, maksudnya : Ketika kita menarik nafas , kita sebagai ibarat Gusti (Tuhan); dan ketika melepas nafas, kita kembali sebagai “Kawula” (makhluk). Hal yang demikian, diharapkan para pembaca tidak salah menafsirkan.

Bahwa yang disebut “Kawula Gusti” (Makhluk dan Tuhan), itu bukan nafas kita, namun hanya daya kekuatan dari pikiran dan cipta kita.

Sehingga, dalam inti melakukan Samadhi adalah kita harus dengan cara memanjangkan masuk dan keluarnya nafas, dengan menjernihkan penglihatan, sebab penglihatan adalah terjadi dari pengaruh rasa.

Sedangkan sikap Samadhi, seperti yang telah di jelaskan di atas, juga bisa dengan jalan di percepat, asal dilakukan dengan cara tidak terputus dalam mengendalikan jalannya pernafasan,

Bisa dilakukan pada saat duduk, berjalan ataupun pada saat bekerja, juga sebaiknya dalam melakukan pernafasan dengan cara tersebut, dengan jalan mengucapkan mantra yang berbunyi : “Hu –Ya” seperti dijelaskan sebelumnya...ataupun juga bisa diganti sesuai dengan keyakinan nya masing-masing.

Selain itu, berdasar kata daiwan, juga masih mempunyai arti yang lain, yaitu panjang tidak berujung atau bermakna langgeng, yang mempunyai maksud bahwa nafas kita adalah sebagai tanda hidup tiap diri pribadi.

Sedangkan bahwa nafas itu ada, ditandai dengan adanya keluar dan masuk nya angin tanpa berhenti, yang bersamaan juga dengan berjalannya detak jantung yang seiring juga dengan perjalanan peredaran darah (Ruh).

Bahwa, apabila keduanya berhenti tidak bekerja, maka disebut meninggal dunia, yaitu rusaknya jasad manusia yang akan kembali kepada asalnya. Sehingga sebaiknya, dalam bernafas diusahakan dipanjangkan juga, agar umur kita bisa panjang untuk hidup di dunia.

Dengan adanya uraian di atas, menunjukan bahwa Ilmu Samadhi, ternyata besar manfaatnya, sehingga disebut juga “Sastrajendrayuningrat Pangruwating Diyu”. Artinya : “Sastra” = Ilmu; “Jendra” = berasal dari kata Harja dan Endra. Artinya “Harja” = bahagia; “Endra” = Raja; “Yu” = Selamat; “Ningrat” = Dunia = tempat = Badan, mengandung maksud : Mustika dari ilmu yang bisa menyebabkan keselamatan hidup, kebahagia an hidup, ketenangan hidup, dan lain sebagainya. Sedangkan makna dari “Pangruwating Diyu” = menghancurkan diyu; sedangkan “Diyu” = Raksasa, Denawa, Asura, sebagai lambang dari Kejahatan, penyakit, kotoran, Bahaya, pikiran gelap, kebodohan, dan sebagainya.

Sehingga sifat Diyu itu berlawanan dengan Tuhan, yaitu : Pandai, Indah, Selamat, dan sebagainya. Mengandung maksud juga bahwa, bagi siapa saja yang bisa mengalahkan segala kejahatan dan segala penghalang hidup.

Artinya, bagi siapa saja yang selalu menjalankan Samadhi yang tiada henti, maka apabila dilakukan oleh manusia jahat, akan hilang sifat jahatnya dan akan berubah menjadi orang baik. Orang yang sedang sakit, akan hilang sakitnya.

Orang angkara murka, orang kejam, akan menjadi orang yang sabar, menerima apa adanya, dan jadi orang yang penyayang. Jika dilakukan oleh pembohong, akan berubah menjadi orang jujur, Bodo akan menjadi pinter, dan sebagainya.

Bisa juga untuk menghilangkan, segala macam bencana dan segala rencana jahat, bahaya dan halangan apapun, yang tumbuh dari kegelapan jiwa diri pribadi, semuanya akan hilang musnah “Lebur dening pangastuti” karena menjalankan ulah Samadhi.

Demikian juga bisa membentengi diri dari serangan bahaya yang berasal dari perbuatan orang lain, dan juga makhluk lainnya, baik yang berupa hewan yang jahat atau juga makhluk halus yang jahat, akan musnah terbakar dari kewibawaan ahli Samadhi.

Harapan penyunting, bahwa akan lebih sempurna apabila menjalankan ajaran kebaikan dari teori yang di dapat dari luar diri apabila diimbangi dengan keadaan sucinya hati karena ulah Samadhi, yang dilakukan dengan olah rasa, tafakur dan Samadhi apabila melakukan ajaran kebaikan, akan semakin sempurna dan tidak kaku.

Karena bukan hanya berdasar teori dalam Ilmu Syariat saja, tapi juga dengan olah rasa sehingga kebenaran mutlak akan menjadi pedoman dalam segala tindak perbuatan dirinya.

0 Response to "CARA MEMPELAJARI RAHASIA ILMU JAWA"

Posting Komentar